Peran Alkohol Di Bidang Farmasi

 

Senyawa alkohol adalah senyawa organik yang memiliki gugus hidroksil (-OH) terikat pada karbon alifatik. Rumus umum senyawa alkohol adalah R-OH, di mana R adalah gugus karbon alifatik atau aromatik.

Gugus hidroksil pada senyawa alkohol memberikan sifat polar pada senyawa ini. Senyawa alkohol juga dapat memiliki gugus fungsional lainnya yang dapat mempengaruhi sifat dan reaktivitasnya, seperti gugus alkena (-C=C-), gugus keton (-CO-), atau gugus ester (-COO-).

Beberapa contoh senyawa alkohol yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari adalah metanol (CH3OH), etanol (C2H5OH), propanol (C3H7OH), isopropil alkohol (C3H8O), dan butanol (C4H9OH). Selain itu, ada juga senyawa alkohol dengan rantai karbon yang lebih panjang, seperti pentanol, heksanol, dan oktanol.

Senyawa alkohol memiliki sifat yang berbeda-beda tergantung pada berat molekul dan strukturnya. Alkohol dengan berat molekul rendah (misalnya metanol dan etanol) memiliki titik didih yang lebih rendah dan mudah menguap, sementara alkohol dengan berat molekul yang lebih tinggi memiliki titik didih yang lebih tinggi dan lebih sulit menguap.


Senyawa alkohol sering digunakan dalam berbagai industri, seperti industri farmasi, kosmetik, dan bahan bakar. Namun, penggunaan alkohol dalam jumlah yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan kesehatan dan bahaya bagi keamanan. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan senyawa alkohol dengan bijak dan dalam jumlah yang tepat.


Tata Nama Alkohol

IUPAC

Tata nama alkohol IUPAC (International Union of Pure and Applied Chemistry) mengikuti aturan yang sama dengan tata nama senyawa organik lainnya. Ada beberapa langkah yang perlu ditempuh untuk menentukan nama IUPAC dari suatu alkohol, yaitu sebagai berikut:

  1. Identifikasi rantai utama: Rantai utama adalah rangka karbon terpanjang pada molekul alkohol yang mengandung gugus hidroksil (-OH). Rantai utama harus memiliki jumlah karbon terbanyak di antara rantai lain pada molekul alkohol.
  2. Penomoran atom karbon: Atom karbon pada rantai utama diberi nomor urut yang dimulai dari atom karbon yang paling dekat dengan gugus hidroksil (-OH). Jika terdapat cabang pada rantai utama, cabang diberi nomor urut yang dimulai dari atom karbon yang paling dekat dengan rantai utama.
  3. Identifikasi gugus fungsional: Gugus hidroksil (-OH) pada alkohol diidentifikasi sebagai gugus fungsional pada molekul alkohol.
  4. Penentuan prefiks nama: Prefiks nama alkohol ditentukan berdasarkan jumlah karbon pada rantai utama dan diawali dengan huruf "ol". Misalnya, alkohol dengan dua atom karbon pada rantai utama dinamakan etanol.
  5. Penentuan sufiks nama: Sufiks nama alkohol ditentukan berdasarkan jenis rantai utama yang digunakan. Jika rantai utama berupa rantai alifatik, maka sufiks nama alkohol adalah "-ol". Jika rantai utama berupa sikloalifatik, maka sufiks nama alkohol adalah "-olik".



Alkohol primer, sekunder, dan tersier merujuk pada struktur kimia alkohol. Ketiganya dapat dibedakan berdasarkan gugus alkil yang terikat pada atom karbon yang terikat pada gugus hidroksil (-OH) alkohol tersebut.

  1. Alkohol primer adalah alkohol dengan gugus alkil yang terikat pada atom karbon yang terikat pada gugus hidroksil, misalnya metanol (CH3OH) dan etanol (C2H5OH).
  2. Alkohol sekunder adalah alkohol dengan gugus alkil yang terikat pada atom karbon yang terikat pada atom karbon lain yang terikat pada gugus hidroksil. Contoh alkohol sekunder adalah 2-propanol (C3H8O).
  3. Alkohol tersier adalah alkohol dengan gugus alkil yang terikat pada atom karbon yang terikat pada dua atom karbon lain yang terikat pada gugus hidroksil. Contoh alkohol tersier adalah 2-metil-2-propanol (C4H10O).


Perbedaan struktur alkohol primer, sekunder, dan tersier dapat memengaruhi sifat fisik dan kimia dari alkohol tersebut, seperti kelarutan, reaktivitas, dan titik didih.


Trivial


Tata nama alkohol secara trivial adalah sistem penamaan yang tidak mengikuti aturan IUPAC, melainkan menggunakan nama umum atau nama yang sudah dikenal secara luas. Sistem ini biasanya digunakan dalam kehidupan sehari-hari atau dalam bahasa sehari-hari, terutama untuk alkohol yang lebih sederhana.

Beberapa contoh tata nama alkohol secara trivial adalah sebagai berikut:

  • Metanol: Alkohol kayu
  • Etanol: Alkohol
  • 1-Propanol: Alkohol propil
  • 2-Propanol: Alkohol isopropil atau alkohol sekunder
  • 1-Butanol: Alkohol butil atau alkohol n-butil
  • 2-Butanol: Alkohol isobutil atau alkohol sekunder
  • 2-Metil-2-propanol: Alkohol tert-butil

Penamaan trivial dapat memudahkan komunikasi dan pemahaman tentang jenis alkohol yang dibicarakan, terutama dalam lingkungan non-ilmiah. Namun, penamaan trivial tidak memberikan informasi tentang struktur kimia atau sifat-sifat fisika dari senyawa alkohol tersebut. Oleh karena itu, dalam dunia ilmiah dan industri, tata nama IUPAC yang lebih sistematis dan jelas lebih sering digunakan.


Sifat Fisika ALkohol

Alkohol bisa membentuk ikatan hidrogen antara molekul-molekulnya. Karena ikatan ini, titik didih alkohol lebih tinggi daripada alkil halida atau eter dengan bobot molekul sebanding. Alkohol juga lebih mudah larut dalam air dibandingkan dengan alkil halida. Alkohol terdiri dari dua bagian yaitu hidrofob (bagian hidrokarbon) dan hidrofil (-OH). Bagian hidrokarbon alkohol tidak suka air sehingga alkohol yang memiliki rantai hidrokarbon yang lebih panjang cenderung kurang larut dalam air. Namun, jika jumlah gugus hidroksil dalam senyawa alkohol semakin banyak, maka kelarutannya semakin tinggi.

Alkohol memiliki dua bagian, yaitu bagian hidrofob (R-) dan bagian hidrofil (-OH). Bagian hidrokarbon dari alkohol adalah bagian hidrofob yang menolak molekul-molekul air. Semakin panjang rantai hidrokarbon, semakin rendah kelarutan alkohol dalam air. Namun, jika rantai hidrokarbon cukup panjang, sifat hidrofobnya akan mengalahkan sifat hidrofil gugus hidroksil. Kelarutan alkohol akan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah gugus hidroksil dalam senyawa. Semakin banyak gugus hidroksil, semakin tinggi kelarutannya.


Sifat Kimia & Reaksi Pada Alkohol

1. Reaksi substitusi alkohol 

terjadi ketika gugus hidroksil (-OH) pada molekul alkohol digantikan oleh gugus lain, seperti halogen (seperti Br, Cl), alkil (seperti CH3, C2H5), atau aril (seperti C6H5). Reaksi ini terjadi dalam larutan asam karena keberadaan asam meningkatkan kecenderungan gugus hidroksil untuk keluar dan memungkinkan reaksi substitusi terjadi.

Contoh reaksi substitusi alkohol adalah ketika 1-butanol direaksikan dengan asam bromida dan bromin, sehingga terbentuk 2-bromobutana dan air:

  • CH3CH2CH2CH2-OH + HBr → CH3CH2CH2CH2-Br + H2O

Reaksi ini disebut reaksi substitusi nukleofilik karena gugus hidroksil dianggap sebagai nukleofil, atau zat yang menarik elektron. Dalam reaksi ini, gugus hidroksil dianggap sebagai gugus pergi karena meninggalkan molekul sebagai air dan digantikan oleh atom bromin sebagai gugus baru.


2. Reaksi eliminasi alkohol 

adalah reaksi kimia di mana alkohol mengalami kehilangan gugus hidroksil (-OH) dan gugus hidrogen dari molekul lain yang berdekatan, sehingga terbentuk senyawa yang memiliki ikatan rangkap. Reaksi ini biasanya terjadi pada kondisi yang basa atau pada suhu yang tinggi. Contohnya adalah:

Reaksi eliminasi etanol:

  • CH3CH2OH → CH2=CH2 + H2O
  • Dalam reaksi ini, etanol kehilangan gugus hidroksil (-OH) dan gugus hidrogen pada karbon yang berdekatan, membentuk etilena (CH2=CH2) dan air.


Reaksi eliminasi 2-metil-2-butanol:

  • (CH3)3COH → (CH3)2C=CH2 + H2O
  • Dalam reaksi ini, 2-metil-2-butanol kehilangan gugus hidroksil (-OH) dan gugus hidrogen pada karbon yang berdekatan, membentuk 2-metil-1-butean (CH3)2C=CH2 dan air.


3. Reaksi oksidasi alkohol 

adalah reaksi kimia di mana alkohol bereaksi dengan zat oksidator seperti asam kromat atau kalium permanganat untuk membentuk senyawa karboksilat atau aldehid. Reaksi ini sering digunakan dalam sintesis organik dan dalam produksi industri, terutama dalam pembuatan asam karboksilat.

Contoh reaksi oksidasi alkohol adalah:

Oksidasi etanol menjadi asam asetat:

  • CH3CH2OH + 2[O] → CH3COOH + H2O

Oksidasi isopropil alkohol menjadi aseton:

  • (CH3)2CHOH + [O] → (CH3)2CO + H2O

Oksidasi sekunder butil alkohol menjadi metil ethil keton:

  • (CH3)2CHCH2OH + [O] → CH3COCH2CH3 + H2O

Dalam reaksi ini, alkohol melepaskan elektron untuk bereaksi dengan zat oksidator dan menghasilkan senyawa yang lebih oksidatif. Jenis oksidasi alkohol yang terjadi akan tergantung pada jenis alkohol yang digunakan dan kondisi reaksinya.


Penggunaan Alkohol Di Bidang Farmasi

1. Sebagai Antiseptic

Alkohol digunakan sebagai antiseptik dalam bidang medis, dimana ia dipakai untuk membersihkan kulit sebelum dilakukan tindakan medis seperti operasi kecil. Karena sifat alkohol yang mudah menguap, ia sangat efektif untuk membunuh mikroorganisme pada permukaan kulit.  Ketika alkohol dioleskan pada permukaan kulit, alkohol dapat dengan cepat menembus lapisan lemak yang melindungi mikroorganisme tersebut. Hal ini akan menyebabkan mikroorganisme mengalami kerusakan dan kemudian mati. Selain itu, alkohol juga membantu menghilangkan kelembaban pada kulit, sehingga membuat lingkungan yang kurang kondusif bagi pertumbuhan mikroorganisme.

Karena itu, alkohol sering digunakan sebagai antiseptik untuk membersihkan kulit sebelum prosedur medis dan operasi kecil.. Selain itu, alkohol juga lebih aman dan lebih cepat kering dibandingkan dengan bahan antiseptik lainnya seperti iodin atau klorheksidin.

2. Sebagai Bahan Pelarut

Alkohol sering digunakan sebagai bahan pelarut dalam farmasi karena sifatnya yang dapat melarutkan berbagai jenis senyawa organik dan anorganik. Sebagai pelarut, alkohol dapat membantu meningkatkan kelarutan zat aktif dalam sediaan obat sehingga mempercepat proses penyerapan di dalam tubuh. Selain itu, alkohol juga dapat membantu memperpanjang masa simpan produk obat karena dapat mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang merusak.

Selain itu, alkohol juga sering digunakan sebagai pembawa dalam proses ekstraksi untuk mengisolasi senyawa aktif dari tumbuhan atau bahan alami lainnya. Dalam proses ekstraksi, bahan mentah direndam dalam alkohol untuk melarutkan senyawa aktif yang kemudian dipisahkan dari larutan dengan cara evaporasi atau distilasi. Metode ekstraksi ini sering digunakan dalam pembuatan obat-obatan herbal dan suplemen makanan.

3. Bahan meningkatkan penyerapan sediaan krim

Alkohol dapat digunakan sebagai bahan campuran dalam beberapa obat dan krim untuk meningkatkan penyerapan dan efektivitasnya. Hal ini terjadi karena alkohol memiliki sifat yang dapat meningkatkan kelarutan dan penetrasi obat ke dalam lapisan kulit atau membran sel.

Ketika alkohol dicampurkan dengan obat atau krim, ia dapat membantu obat lebih mudah menembus lapisan kulit dan mencapai target di dalam tubuh. Selain itu, alkohol juga dapat membantu menghilangkan lapisan lipid di kulit yang dapat menghalangi penyerapan obat.

Beberapa jenis obat dan krim yang menggunakan alkohol sebagai bahan campuran di antaranya adalah obat topikal untuk pengobatan jerawat, anti-inflamasi, dan anti-jamur. Dalam penggunaannya, perlu diingat bahwa alkohol dapat menyebabkan iritasi pada kulit jika digunakan dalam jumlah yang berlebihan.


Referensi

  • Heliawati, L., Suchyadi, Y., & Iryani, A. (2018). Kimia Organik 2. Universitas Pakuan Bogor, Bogor.
  • Musman, M. (2017). Kimia organik bahan alam. Syiah Kuala University Press.
  • Aýun, Q., Rosmawati, A., Sari, D. A., Gurning, K., Lestari, Y. P. I., Khurniyati, M. I., ... & Hasibuan, A. K. H. (2023). KIMIA ORGANIK.
  • Sastrohamidjojo, H. (2018). Kimia dasar. Ugm Press.
  • Balansa, W., Tanod, W. A., Rieuwpassa, F. J., Palawe, J. F. P., & Si, M. (2022). Buku Ajar Kimia Dasar Analitik & Organik.
  • Amanatie, P. P. BUKU PEGANGAN MAHASISWA KIMIA ORGANIK II.


Post a Comment

أحدث أقدم