LAPORAN PRAKYIKUM FARMAKOLOGI AKTIVITAS ANTIPIRETIK

 BAB 1 PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Demam merupakan kondisi medis yang sering terjadi pada manusia sebagai respon tubuh terhadap infeksi atau penyakit lainnya. Meskipun demam berfungsi sebagai mekanisme pertahanan alami tubuh, namun jika tidak diatasi dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan komplikasi serius. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami dan mencari cara efektif dalam menangani demam guna meringankan gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien.


Salah satu kelompok obat yang digunakan untuk meredakan demam adalah antipiretik. Namun, walaupun obat-obatan ini telah digunakan secara luas, penting untuk terus melakukan penelitian guna memahami lebih dalam mekanisme dan efeknya dalam menurunkan suhu tubuh pada saat demam. Di sinilah peran farmasi menjadi sangat relevan, karena mereka berperan dalam pengembangan dan penelitian obat-obatan guna mencari solusi terbaik untuk masalah kesehatan masyarakat.


Paracetamol bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase (COX) yang terlibat dalam produksi prostaglandin. Prostaglandin adalah senyawa yang dihasilkan tubuh sebagai respons terhadap peradangan, dan juga berperan dalam regulasi suhu tubuh, termasuk saat mengalami demam. Ketika mengalami demam karena pengaruh DNP, tubuh akan menghasilkan lebih banyak prostaglandin sebagai respon terhadap peradangan yang disebabkan oleh efek DNP. Inilah yang menyebabkan suhu tubuh meningkat.


Paracetamol bekerja dengan menghambat produksi prostaglandin oleh enzim COX dalam otak, yang kemudian mengurangi reaksi peradangan dan peningkatan suhu tubuh yang terjadi akibat demam. Sehingga, penggunaan paracetamol dapat membantu menurunkan suhu tubuh dan mengatasi gejala demam yang disebabkan oleh larutan 2,4-Dinitrofenol (DNP).


Praktikum ini bertujuan untuk menginvestigasi aktivitas antipiretik dari suatu obat yang sangat umum digunakan, yaitu paracetamol, pada hewan model mencit yang diinfeksi dengan larutan 2,4-dinitrofenol. 2,4-dinitrofenol merupakan senyawa yang diketahui dapat menyebabkan demam pada mencit, sehingga menciptakan kondisi yang mirip dengan infeksi yang menyebabkan demam pada manusia. Praktikum ini akan memfokuskan pada bagaimana paracetamol bekerja setelah demam muncul pada mencit yang diinfeksi 2,4-dinitrofenol, serta efeknya terhadap suhu tubuh mencit tersebut.



B. Tujuan Praktikum:

  • Menilai efektivitas larutan paracetamol sebagai agen antipiretik dalam menurunkan suhu tubuh mencit yang mengalami demam akibat infeksi 2,4-dinitrofenol.
  • Mempelajari mekanisme kerja paracetamol sebagai agen antipiretik dan bagaimana ia berinteraksi dengan tubuh mencit dalam menurunkan demam.
  • Mengidentifikasi dosis optimal larutan paracetamol yang dapat memberikan efek antipiretik maksimal tanpa menimbulkan efek samping yang berbahaya.
  • Memahami peran prostaglandin dalam mekanisme demam dan bagaimana paracetamol menghambat produksi prostaglandin ini.
  • Melakukan evaluasi keamanan penggunaan paracetamol sebagai obat antipiretik pada mencit yang menderita demam karena infeksi 2,4-dinitrofenol.



C. Manfaat Praktikum:

  • Menambah pemahaman mahasiswa tentang farmakologi dan mekanisme kerja obat antipiretik, khususnya paracetamol, dalam mengatasi demam.
  • Mengajarkan mahasiswa tentang pentingnya melakukan uji praklinik pada hewan percobaan sebelum obat dikembangkan untuk digunakan pada manusia, untuk menilai efikasi dan keamanan.
  • Menumbuhkan keterampilan praktis dalam melakukan percobaan, mengumpulkan data, dan menganalisis hasil secara ilmiah.
  • Memberikan wawasan tentang betapa kompleksnya mekanisme demam dalam tubuh dan perlunya penelitian lanjutan untuk mengembangkan obat antipiretik yang lebih efektif dan aman.
  • Mengingatkan akan tanggung jawab etis sebagai ilmuwan dan calon profesional farmasi dalam penggunaan hewan percobaan, dengan memastikan kesejahteraan hewan dan meminimalkan rasa sakit dan penderitaan selama eksperimen.



BAB 2 METODE PRAKTIKUM

A. Alat:

  • Spuit 1 mL dan 5 mL
  • Oral sonde
  • Termometer rectal
  • Timbangan hewan
  • Stopwatch 


B. Bahan

  • Larutan NaOH 0,1 N
  • Na CMC
  • Parasetamol
  • Alkohol 70%
  • Vaseline
  • 2,4 Dinitrofenol (DNF)
  • Hewan percobaan : Tikus


C. Prosedur Kerja Praktikum

1. Pembuatan Injeksi 2,4-dinitrofenol 0,5%

  • Sebanyak 500 mg 2,4-dinitrofenol ditimbang, lalu dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml, kemudian ditambahkan larutah NaOH 0,1 N sedikit demi sedikit sampai larut. Aquadest ditambahkan sampai garis tanda, cek pH = 6, dicukupkan dengan aquadest sampai 100 ml. Disaring, 5 tetes pertama dibuang dan tetesan selanjutnya ditampung.

2. Pembuatan Suspensi Parasetamol 10%

  • CMC sebanyak 0,125 g ditaburkan ke dalam cawan porselin yang berisi aquadest panas sebanyak 1/3 bagian air yang tersedia. Didiamkan 30 menit. Diaduk sampai diperoleh massa yang homogen. Parasetamol sebanyak 2,5 g digerus dalam lumpang sampai halus, mucilago CMC ditambahkan sedikit demi sedikit sambil digerus sampai homogen. Sisa aquadest ditambahkan sampai 25 ml, digerus kembali.

3. Prosedur Uji

  • Hewan ditimbang dan diberi tanda.
  • Diukur suhu rata – rata 3 ekor tikus dengan termometer m elalui rektal dengan selang waktu 5 menit sebanyak 3 kali, lalu dirata – ratakan.
  • Dihitung dosis 2,4 dinitrofenol 0,5% dosis 5 mg/KgBB, diberikan secara i.m.
  • Diukur kenaikan suhu tubuh tikus dengan selang waktu 5 menit sampai 20 menit.
  • Dihitung dosis dan diberikan:
  1. Tikus I : suspensi CMC Na 0,5% dosis 1% BB secara oral.
  2. Tikus II : suspensi parasetamol 10% dosis 400 mg/kgBB secara oral.
  3. Tikus III : obat X % dosis 400 mg/KgBB secara oral.
  • Diukur perubahan suhu yang terjadi dengan selang waktu 5 menit sampai 50 menit.
  • Dibuat grafik suhu vs waktu Suhu (oC)



BAB 3 HASIL & PEMBAHASAN

A. HASIL PENGAMATAN

1.  Suhu Rata-rata Tikus

 

No

Keterangan

Waktu (menit)

Suhu (oC)

1

Tikus 1 (Na CMC)

5

35.9

10

36.8

15

36.5

Rata-rata

 36,4

2

Tikus 2 (Parasetamol)

5

35.4

10

37.8

15

37.6

Rata-rata

 36,9

3

Tikus 3 (Obat X)

5

35.9

10

36.3

15

35.7

Rata-rata

 35,9

 

2.  Suhu Setelah Pemberian DNF

 

No

Keterangan

Waktu (menit)

Suhu (oC)

1

Tikus 1 (Na CMC)

5

37.3

10

37.4

15

37.5

20

37.4

2

Tikus 2 (Parasetamol)

5

37.2

10

37.2

15

37.2

20

37.1

3

Tikus 3 (Obat X)

5

37.4

10

37.5

15

37.4

20

37.3

 

3.  Suhu Setelah Pemberian Obat

 

No

Keterangan

Waktu (menit)

Suhu (oC)

1

Tikus 1 (Na CMC)

5

37.4

10

37.5

15

37.6

20

37.8

25

38

30

38.2

35

38.3

40

38.3

45

38.1

50

38.8

2

Tikus 2 (Parasetamol)

5

37.2

10

37.2

15

37.1

20

36.8


 

 

25

36.5

30

36.4

35

36.2

40

36

45

36

50

35.8

3

Tikus 3 (Obat X)

5

37.4

10

37.3

15

37.2

20

37.1

25

36.8

30

36.7

35

36.6

40

36

45

35.8

50

35.7

 


Perhitungan Dosis

1. Suspensi Na CMC 0.5%

  • = 0,5 gr Na CMC dilarutkan dalam 100ml air

2. Larutan DNF dengan sosis 5 mg/KgBB

A. Pembuatan Larutan
= 0,5 gr DNF dilarutkan dalam 100ml aq dest

Konsentrasi Larutan : 
Konsentrasi = Jumlah 2,4-dinitrofenol (gram) / Volume larutan (ml)
Konsentrasi = 0,5 gram / 100 ml
Konsentrasi = 0,005 g/mL atau 5 mg/ml


B. Untuk dosis 5 mg/KgBB (BB mencit 0.030 kg)

= 5mg X 0.030  =  0.15 mg

C. Volume larutan yang diambil

Untuk mencari volume larutan parasetamol yang setara dengan 0.15 mg DNF, kita bisa menggunakan rumus konsentrasi:
Konsentrasi = Jumlah parasetamol (gram) / Volume larutan (ml)
Kita tahu konsentrasi larutan DNF adalah 5 mg/ml atau 0,005 g/ml.
Mari kita cari berapa ml larutan yang setara dengan 0.15 mg DNF:

0.15 mg / 5 mg/ml = 0,03 ml --> Sudah mengandung 0.15mg DNF


3. Suspensi Paracetamol 10% dan Obat X 10% dengan dosis 400 mg/KgBB

A. Pembuatan Larutan
= 2,5 gr bahan dilarutkan dalam 25ml aq dest

Konsentrasi Larutan : 
Konsentrasi = Jumlah paracetamol (gram) / Volume larutan (ml)
Konsentrasi = 2,5 gram / 25 ml
Konsentrasi = 0,1 g/mL atau 100 mg/ml


B. Untuk dosis 400 mg/KgBB (BB mencit 0.030 kg)

= 400mg X 0.030  =  12 mg

C. Volume larutan yang diambil

Untuk mencari volume larutan parasetamol yang setara dengan 12 mg Paracetamol, kita bisa menggunakan rumus konsentrasi:
Konsentrasi = Jumlah parasetamol (gram) / Volume larutan (ml)
Kita tahu konsentrasi larutan Paracetamol adalah 12 mg/ml atau 0,012 g/ml.
Mari kita cari berapa ml larutan yang setara dengan 0.15 mg DNF:

12 mg / 100 mg/ml = 0,12 ml --> Sudah mengandung 12 mg Paracetamol


B. PEMBAHASAN

Pada praktikum ini, melakukan penelitian mengenai aktivitas antipiretik dari tiga jenis obat, yaitu CMC Na 0,5%, parasetamol 10%, dan obat X pada mencit yang telah diinfeksi dengan larutan 2,4-dinitrofenol (DNP) untuk menimbulkan demam. Setiap mencit telah diukur suhu rata-ratanya sebelum dimulainya penelitian. Suhu rata-rata mencit 1 (diberi CMC Na) sebesar 36,4°C, mencit 2 (diberi parasetamol) sebesar 36,9°C, dan mencit 3 (diberi obat X) sebesar 35,9°C.


Setelah itu, mencit-mencit tersebut diinfeksi dengan larutan 2,4-dinitrofenol (DNP) untuk menimbulkan demam. Setelah mencapai suhu demam, mencit-mencit tersebut diberikan perlakuan sesuai dengan kelompoknya. Mencit 1 diberikan suspensi CMC Na 0,5% dengan dosis 1% berat badan (BB) secara oral, mencit 2 diberikan suspensi parasetamol 10% dengan dosis 400 mg/kgBB secara oral, dan mencit 3 diberikan larutan obat X dengan dosis 400 mg/kgBB secara oral. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada tahap ini, suhu rata-rata mencit meningkat, yang menandakan berhasilnya infeksi DNP untuk menimbulkan demam pada mencit-mencit tersebut.


Setelah mencapai suhu demam, diamati perubahan suhu mencit setelah diberikan perlakuan. Mencit 1 yang diberikan CMC Na 0,5% mengalami peningkatan suhu, dari 37,3°C pada menit ke-5 menjadi 38,8°C pada menit ke-20. Hal ini menunjukkan bahwa CMC Na tidak memiliki aktivitas antipiretik, sehingga suhu mencit meningkat setelah mendapatkan perlakuan tersebut.


Sementara itu, mencit 2 yang diberikan parasetamol mengalami penurunan suhu, dari 37,2°C pada menit ke-5 menjadi 35,8°C pada menit ke-20. Penurunan suhu ini menunjukkan bahwa parasetamol memiliki efek antipiretik yang efektif dalam menurunkan suhu tubuh mencit.


Selanjutnya, mencit 3 yang diberikan obat X juga mengalami penurunan suhu, dari 37,2°C pada menit ke-5 menjadi 35,7°C pada menit ke-20. Hasil ini menunjukkan bahwa obat X juga memiliki efek antipiretik yang mampu menurunkan suhu tubuh mencit.


2,4-dinitrofenol (DNP) menyebabkan demam karena mekanisme kerjanya yang mengganggu proses normal respirasi seluler di dalam tubuh. Ketika DNP masuk ke dalam tubuh, ia berinteraksi dengan mitokondria, yaitu struktur sel yang bertanggung jawab atas produksi energi. Dalam proses normal respirasi seluler, mitokondria mengubah nutrisi seperti glukosa menjadi energi yang dapat digunakan oleh sel.


Cara kerja paracetamol dalam menghambat demam  yang dihasilkan larutan 2,4-dinitrofenol atau DNP adalah dengan menghambat aktivitas enzim siklooksigenase (COX) di dalam tubuh. Ketika tubuh mengalami cedera atau peradangan, demam atau COX akan merespons dengan memproduksi prostaglandin. Prostaglandin ini merupakan senyawa yang menyebabkan terjadinya rasa nyeri dan peradangan. Paracetamol berfungsi dengan mengikat dan menghambat COX secara selektif di otak, yang merupakan bagian tubuh yang mengatur persepsi nyeri dan demam.


Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa CMC Na tidak memiliki aktivitas antipiretik, sedangkan parasetamol dan obat X efektif dalam menurunkan suhu tubuh mencit yang mengalami demam akibat infeksi DNP. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi kandungan dan mekanisme kerja obat X guna lebih memahami potensinya sebagai obat antipiretik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan terapi antipiretik yang lebih efektif dan aman pada manusia.



BAB 4 KESIMPULAN & SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum tentang aktivitas antipiretik pada mencit yang diinfeksi larutan 2,4-dinitrofenol (DNP) dan diberikan perlakuan dengan CMC Na 0,5%, parasetamol 10%, dan obat X, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  • Suhu rata-rata mencit meningkat setelah diinfeksi DNP, menunjukkan keberhasilan infeksi dalam menimbulkan demam pada mencit yang menjadi objek penelitian.
  • CMC Na 0,5% tidak memiliki aktivitas antipiretik, hal ini terlihat dari peningkatan suhu mencit setelah diberikan CMC Na.
  • Parasetamol 10% memiliki efek antipiretik yang efektif dalam menurunkan suhu tubuh mencit yang mengalami demam akibat infeksi DNP.
  • Obat X juga memiliki efek antipiretik yang mampu menurunkan suhu tubuh mencit yang mengalami demam akibat infeksi DNP.


B. SARAN

Berdasarkan hasil praktikum ini, terdapat beberapa saran yang dapat diberikan untuk penelitian dan pengembangan selanjutnya:

  • Uji coba lebih banyak jenis obat: Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai efektivitas dan potensi obat-obatan sebagai antipiretik, disarankan untuk menguji lebih banyak jenis obat dengan berbagai mekanisme kerja yang berbeda.
  • Uji dosis yang berbeda: Dalam praktikum ini, dosis yang digunakan untuk parasetamol dan obat X adalah 400 mg/kgBB. Sebaiknya dilakukan uji coba dengan dosis yang berbeda untuk mengetahui respons antipiretik pada berbagai tingkat dosis.
  • Identifikasi kandungan dan mekanisme kerja obat X: Karena obat X menunjukkan efek antipiretik yang baik, penting untuk mengidentifikasi kandungan serta memahami mekanisme kerja obat tersebut guna mengembangkan potensi penggunaannya sebagai obat antipiretik pada manusia.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama