Benda ergastik Merupakan bahan non protoplasm. Zat ergastik dan protoplas adalah dua komponen yang berbeda dalam sel tumbuhan, tetapi keduanya memiliki hubungan yang penting dalam menjaga fungsi dan kehidupan sel. Sebelum itu, sebaiknya anda membaca mengenai apa itu orgnael sel dan protoplasm di materi sebelumnya.
Protoplas adalah seluruh isi sel hidup yang meliputi sitoplasma, inti sel, dan organel-organel lainnya. Ini mencakup semua komponen yang aktif berpartisipasi dalam proses kehidupan sel, seperti sintesis protein, respirasi, replikasi DNA, dan lain sebagainya.
Sementara itu, zat ergastik merujuk pada komponen non-hidup dalam sel tumbuhan, seperti selulosa, lignin, kutin, suberin, pati, dan minyak biji. Zat-zat ini terdapat di luar protoplasma, yaitu di dinding sel, vakuola, dan tempat penyimpanan lainnya dalam sel tumbuhan.
Meskipun zat ergastik dan protoplas berada pada komponen yang berbeda dalam sel, mereka saling terkait dan saling mempengaruhi. Zat ergastik yang terdapat di dinding sel memberikan kekuatan dan dukungan struktural yang diperlukan bagi sel tumbuhan. Selulosa, sebagai salah satu zat ergastik utama, membentuk matriks yang kuat dan memberikan kekuatan pada dinding sel. Dalam hal ini, zat ergastik membantu menjaga integritas sel dan struktur tumbuhan secara keseluruhan.
Selain itu, zat ergastik juga dapat berfungsi sebagai zat penyimpanan energi, seperti pati dan minyak biji. Zat-zat ini disimpan dalam vakuola dan tempat penyimpanan lainnya dalam sel tumbuhan, yang pada gilirannya menyediakan energi bagi protoplasma sel untuk berbagai proses metabolik dan pertumbuhan.
Dengan demikian, zat ergastik dan protoplas saling berhubungan dan saling mendukung dalam menjaga fungsi dan kehidupan sel tumbuhan. Zat ergastik memberikan struktur, dukungan, dan penyimpanan energi yang diperlukan oleh protoplasma untuk menjalankan proses kehidupan sel yang vital.
Pembentukan Benda Ergastik
zat ergastik meliputi pati, glikogen, lemak, lignin, kristal kalsium oksalat, silika, dan banyak lagi, Pembentukanya terjadi di dalam protoplasma sel tumbuhan. Protoplasma merupakan substansi hidup yang mengandung sitoplasma, inti sel, dan organel-organel yang berfungsi dalam kehidupan sel. Selama proses metabolisme, protoplasma menghasilkan dan mengakumulasi zat-zat ergastik tersebut. Misalnya, sel-sel tumbuhan menghasilkan pati melalui fotosintesis di dalam kloroplas, yang kemudian disimpan dalam plastida atau lekosit. Lignin, yang memberikan dukungan struktural pada jaringan kayu, diproduksi dan ditempatkan di dinding sel.
Meskipun zat ergastik sendiri adalah bahan non-hidup, proses pembentukannya terjadi dalam komponen hidup sel tumbuhan, yaitu protoplasma. Oleh karena itu, pembentukan zat ergastik dan proses kehidupan sel berlangsung secara terintegrasi dan tidak dapat dipisahkan.
Penting untuk dicatat bahwa pembuatan zat ergastik tergantung pada jenis sel tumbuhan dan fungsinya. Setiap jenis sel memiliki kemampuan dan peran yang berbeda dalam menghasilkan dan mengakumulasi zat ergastik yang spesifik.
Bahan ergastik terdiri dari 2, yaitu :
1. Berdasarkan fungsinya
Bahan ergastik dapat dibagi menjadi tiga berdasarkan fungsinya:
- Sebagai sumber makanan (energi): Beberapa bahan ergastik, seperti glukosa, protein, dan lemak, dapat digunakan sebagai sumber energi langsung untuk sel dalam melakukan berbagai kegiatan metabolisme. Ini berarti bahan-bahan tersebut dapat digunakan oleh sel itu sendiri atau oleh bagian lain dari tumbuhan itu sendiri.
- Sebagai sumber bahan makanan cadangan: Ketika tumbuhan menghasilkan lebih banyak bahan makanan dari yang dibutuhkan pada saat itu, bahan-bahan tersebut disimpan sebagai cadangan makanan. Misalnya, lemak (minyak), karbohidrat (pada umumnya pati), dan protein (seperti aleuron atau protein dengan kadar air yang rendah) dapat disimpan sebagai cadangan makanan untuk digunakan di masa depan saat tumbuhan membutuhkannya.
- Sebagai bahan buangan (waste product): Bahan ergastik juga dapat dihasilkan sebagai hasil samping dari berbagai proses metabolisme, baik itu metabolisme karbohidrat, protein, atau lemak. Contohnya adalah karbonat dan oksalat, yang merupakan kumpulan berbagai zat yang dihasilkan sebagai hasil samping metabolisme tersebut.
Pemahaman tentang fungsinya ini membantu kita memahami peran penting bahan ergastik dalam sel tumbuhan. Mereka tidak hanya memberikan energi dan cadangan makanan bagi sel tumbuhan, tetapi juga memungkinkan pembuangan zat-zat samping yang tidak diperlukan oleh sel. Dengan demikian, bahan ergastik berkontribusi dalam menjaga keseimbangan dan kelangsungan hidup sel tumbuhan.
2. Berdasarkan bentuknya
Berdasarkan bentuknya, bahan ergastik dapat dibagi menjadi tiga:
- Droplet (tetesan kecil): Beberapa bahan ergastik memiliki bentuk tetesan kecil, seperti minyak/lemak, protein, dan alkaloid. Mereka terkumpul dalam bentuk droplet, yang berarti mereka membentuk tetesan kecil yang terpisah dalam sel tumbuhan. Contohnya, minyak atau lemak dapat ditemukan dalam bentuk droplet di dalam sel biji atau buah, sementara protein dan alkaloid juga dapat berada dalam bentuk tetesan kecil.
- Amorf (zat padat bukan kristal): Beberapa bahan ergastik memiliki bentuk amorf, yaitu bentuk padat yang tidak memiliki struktur kristal yang teratur. Contohnya adalah aleuron dan pati. Aleuron adalah protein yang ditemukan dalam biji-bijian, sedangkan pati adalah karbohidrat yang berfungsi sebagai cadangan makanan dan biasanya ditemukan dalam bentuk butiran atau partikel amorf.
- Zat padat berupa kristal: Beberapa bahan ergastik berbentuk padat dan membentuk kristal yang teratur. Contohnya adalah oksalat, getah, dan damar. Oksalat adalah senyawa kristal yang ditemukan dalam sel tumbuhan, terutama di daun dan jaringan penyimpanan. Getah juga dapat berbentuk kristal, seperti yang ditemukan pada tanaman tertentu. Damar adalah bahan ergastik yang terbentuk dalam bentuk kristal dan berfungsi untuk melindungi jaringan kayu tumbuhan.
Pemahaman tentang berbagai bentuk bahan ergastik ini membantu kita memahami keberagaman dan peran mereka dalam sel tumbuhan. Bentuk-bentuk ini mencerminkan karakteristik fisik dan sifat-sifat zat ergastik yang berbeda. Setiap bentuk bahan ergastik memiliki peran dan fungsi penting dalam menjaga fungsi dan kelangsungan hidup sel tumbuhan.
Contoh Bahan ergastik sebagai sumber makanan
Pati
Proses pembentukan pati dimulai melalui proses fotosintesis, di mana tumbuhan menggunakan energi matahari, karbon dioksida, dan air untuk menghasilkan glukosa. Glukosa yang dihasilkan selama fotosintesis kemudian dikonversi menjadi pati melalui serangkaian reaksi kimia. Proses ini terjadi di dalam kloroplas, organel tempat terjadinya fotosintesis dalam sel tumbuhan.
Setelah terbentuk, pati disimpan dalam organel yang disebut amiloplas. Amiloplas merupakan bagian dari sitoplasma sel tumbuhan yang berfungsi khusus sebagai tempat penyimpanan pati. Biasanya, amiloplas terdapat di jaringan penyimpanan seperti akar, umbi, rimpang, biji, atau daun yang mengalami perubahan menjadi kantung pati atau butiran pati.
Fungsi utama pati sebagai benda ergastik adalah sebagai sumber energi yang dapat digunakan oleh tumbuhan. Pati terutama ditemukan dalam bentuk granula atau butiran amorf di dalam sel. Selama fotosintesis, tumbuhan menghasilkan glukosa yang kemudian dikonversi menjadi pati dan disimpan dalam kloroplas dan amiloplas, organel yang bertanggung jawab untuk penyimpanan pati.
Ketika tumbuhan membutuhkan energi tambahan, pati akan dipecah menjadi molekul glukosa melalui proses hidrolisis. Glukosa yang dihasilkan kemudian digunakan dalam proses metabolisme tumbuhan untuk menghasilkan energi yang diperlukan untuk pertumbuhan, perkembangan, dan aktivitas seluler.
Selain sebagai sumber energi, pati juga berfungsi sebagai cadangan makanan yang membantu tumbuhan bertahan dalam kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Misalnya, saat musim dingin atau dalam kondisi kekeringan, ketika fotosintesis terbatas, tumbuhan dapat menggunakan cadangan pati untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Secara struktural, pati terdiri dari molekul amilosa dan amilopektin yang terhubung satu sama lain. Mereka membentuk struktur yang dapat dicerna oleh enzim amilase, baik di dalam sel tumbuhan itu sendiri maupun di dalam sistem pencernaan hewan atau manusia yang memakan tumbuhan tersebut.
Dengan demikian, pati sebagai benda ergastik berperan penting dalam penyimpanan cadangan makanan dan sebagai sumber energi bagi tumbuhan. Fungsi ini membantu tumbuhan bertahan dalam kondisi lingkungan yang berubah-ubah dan memastikan kelangsungan hidup mereka.
Jenis-jenis butiran pati berdasarkan bentuknya adalah sebagai berikut:
- Pati sederhana (simple grain starch): Butiran pati ini memiliki struktur yang terdiri dari satu butir pati tunggal. Mereka memiliki bentuk yang relatif sederhana dan tidak terbagi-bagi. Contoh pati sederhana adalah pati jagung.
- Pati ½ majemuk (semi compound grain starch): Jenis pati ini memiliki struktur yang sedikit kompleks, di mana butiran pati terdiri dari beberapa bagian yang terhubung tetapi tidak sepenuhnya terbagi-bagi. Bagian-bagian tersebut memiliki bentuk yang lebih kompleks daripada pati sederhana. Contoh pati ½ majemuk adalah pati gandum.
- Pati majemuk (compound grain starch): Butiran pati ini memiliki struktur yang paling kompleks. Mereka terdiri dari beberapa butir pati yang terhubung satu sama lain. Butiran-butiran pati ini dapat terlihat seperti kelompok kecil butiran pati yang membentuk satu kesatuan yang lebih besar. Contoh pati majemuk adalah pati kentang.
|
|
| Gambar Pati (A. Amilum sederhana eksentris, B. Amilum sederhana konsentris, C. Amilum majemuk konsentris, D. Amylum majemuk konsentris) |
Selain itu, pati sederhana juga dapat dibedakan berdasarkan letak hilusnya, yaitu:
- Pati sederhana konsentris: Jenis butiran pati tunggal ini memiliki hilus yang terletak di tengah-tengah butiran. Contohnya adalah pati dari tanaman manihot utilissima.
- Pati sederhana eksosentris: Jenis butiran pati tunggal ini memiliki hilus yang terletak di tepi atau pinggiran butiran. Contohnya adalah pati dari tanaman Solanum tuberosum (kentang).
Cara identifikasi amilum
Cara identifikasi amilum melibatkan pengamatan terhadap beberapa karakteristik fisiknya. Berikut adalah cara untuk mengidentifikasi amilum:
- Bentuk amilum: Amilum dapat memiliki berbagai bentuk, seperti bulat, oval, atau poligonal. Ini tergantung pada spesies tanaman yang menghasilkannya. Untuk mengidentifikasi bentuk amilum, perhatikan struktur butiran pati di bawah mikroskop dengan perbesaran yang cukup.
- Ukuran amilum: Ukuran amilum bervariasi dalam rentang 5 hingga 100 mikrometer (μm). Untuk menentukan ukuran amilum, gunakan mikroskop dengan perbesaran yang memadai dan ukur diameter butiran pati menggunakan pengukuran mikrometer yang terdapat pada mikroskop.
- Letak hilus: Hilus adalah titik di mana amilum dimulai atau tempat di mana pertumbuhan pati dimulai. Ada dua jenis letak hilus yang dapat diamati: konsentris dan eksosentris. Letak hilus konsentris berarti hilus terletak di tengah butiran pati, sedangkan letak hilus eksosentris berarti hilus terletak di tepi butiran pati. Perhatikan letak hilus pada butiran pati dengan menggunakan mikroskop.
- Keadaan hilus: Perhatikan keadaan hilus, apakah terlihat sebagai garis atau retakan pada butiran pati. Garis hilus dapat memberikan petunjuk tentang pertumbuhan amilum, sementara retakan hilus dapat mengindikasikan keadaan yang tidak normal atau perubahan dalam struktur butiran pati.
- Keadaan lamela: Lamela adalah lapisan tipis yang terbentuk di sekitar butiran pati. Amilum dapat memiliki keadaan lamela yang jelas, tidak jelas, atau bahkan tidak ada lamela sama sekali. Perhatikan keadaan lamela saat mengamati butiran pati di bawah mikroskop.
Protein
Protein disebut benda ergastik karena protein merupakan salah satu jenis bahan non-protoplasmik yang terdapat dalam sel tumbuhan. Benda ergastik merujuk pada zat-zat yang terdapat di dalam sel tumbuhan selain dari komponen protoplasma seperti membran sel, inti sel, dan sitoplasma.
- Proses pembentukan protein dimulai dari sintesis protein, di mana asam amino yang ada di dalam sel tumbuhan dirangkai menjadi rantai polipeptida melalui reaksi kimia yang kompleks. Proses ini terjadi di dalam ribosom, organel sel yang bertanggung jawab untuk sintesis protein.
- Setelah terbentuk, protein disimpan dan didistribusikan ke berbagai bagian sel tumbuhan. Protein dapat disimpan dalam berbagai organel seperti vakuola, kloroplas, mitokondria, dan sitoplasma. Protein juga dapat disimpan dalam jaringan penyimpanan seperti biji, kacang-kacangan, umbi, dan buah.
Bentuk protein dalam sel tumbuhan dapat bervariasi, tergantung pada fungsinya. Protein dapat berbentuk globular (bulat) atau fibrosa (berbentuk serat). Bentuk globular umumnya ditemukan dalam protein enzim, yang berperan dalam katalisis reaksi kimia dalam sel. Sedangkan bentuk fibrosa umumnya ditemukan dalam protein struktural yang memberikan dukungan dan kekuatan pada sel atau jaringan.
Protein pada tumbuhan memiliki peran yang penting dalam berbagai proses, seperti pertumbuhan, perkembangan, metabolisme, dan respons terhadap lingkungan. Mereka terlibat dalam sintesis pigmen fotosintesis, enzim untuk reaksi metabolik, faktor pertumbuhan, protein struktural dalam dinding sel, dan banyak fungsi lainnya yang penting untuk kelangsungan hidup dan fungsi normal tumbuhan.
Dengan demikian, protein sebagai benda ergastik berperan penting dalam berbagai aspek kehidupan sel tumbuhan, termasuk fungsi metabolik, struktural, dan respons terhadap lingkungan.
Pembentukan Aleuron
Protein aleuron adalah jenis protein yang berfungsi sebagai cadangan makanan dalam sel tumbuhan. Pembentukan protein aleuron dimulai ketika protein yang tidak aktif atau tidak digunakan langsung oleh sel ditransportasikan ke dalam vakuola, yaitu organel yang berfungsi sebagai penyimpanan. Di dalam vakuola, protein tersebut terlarut dalam cairan vakuola.
Selama proses pematangan buah atau biji, terjadi perubahan lingkungan di dalam vakuola, seperti peningkatan konsentrasi garam dan perubahan pH. Faktor-faktor ini menyebabkan protein terlarut mengalami pengendapan atau presipitasi. Dalam konteks pembentukan aleuron, pengendapan ini menghasilkan butiran-butiran kecil yang disebut aleuron.
Butiran aleuron terbentuk karena protein-protein tersebut menggumpal dan membentuk struktur kohesif. Mereka terkumpul bersama-sama dan mengendap di dalam vakuola. Butiran aleuron dapat ditemukan terutama dalam biji dan buah yang sudah matang.
Fungsi utama protein aleuron adalah sebagai cadangan makanan yang akan digunakan oleh sel tumbuhan saat dibutuhkan, misalnya dalam masa perkecambahan biji atau pertumbuhan awal tanaman. Ketika tumbuhan membutuhkan sumber energi dan nutrisi, protein aleuron akan dihidrolisis menjadi asam amino oleh enzim yang diaktifkan.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, protein aleuron terbentuk ketika protein tidak aktif di dalam sel tumbuhan disimpan dalam vakuola. Selama pematangan buah atau biji, protein ini mengendap menjadi butiran aleuron. Fungsi butiran aleuron adalah sebagai cadangan makanan yang dapat digunakan oleh tanaman saat dibutuhkan.
Lemak Dan Minyak Atsiri
-
Pembuatan lemak:
Lemak terbentuk melalui proses yang disebut lipogenesis, yang terjadi di dalam organel sel tumbuhan yang disebut plastida. Plastida, terutama kloroplas, adalah tempat utama pembuatan lemak. Proses ini melibatkan konversi karbohidrat seperti glukosa menjadi asam lemak melalui serangkaian reaksi kimia. Asam lemak ini kemudian digabungkan dengan gliserol untuk membentuk molekul lemak. Lemak ini kemudian disimpan dalam plastida sebagai bahan ergastik.
-
Pembuatan minyak atsiri:
Minyak atsiri, juga dikenal sebagai minyak esensial, terbentuk di dalam tumbuhan melalui proses biosintesis yang kompleks. Minyak atsiri terbentuk dalam berbagai jaringan tumbuhan, seperti kelenjar minyak, sel-sel khusus, atau bahkan dalam seluruh jaringan tumbuhan. Proses pembuatan minyak atsiri melibatkan sintesis senyawa organik yang kompleks, termasuk terpenoid dan fenilpropanoid, melalui jalur metabolik yang khusus. Minyak atsiri ini disimpan dalam vakuola sel tumbuhan sebagai benda ergastik.
Bahan ergastik sebagai bahan buangan
Contoh bahan ergastik sebagai bahan buangan
Alkaloid
Tanin
Kristal
Menurut banyaknya molekul air dalam kristal , maka terdapat 2 jenis kristal oksalat, yaitu :
- Kristal pasir (kristalin): Bentuk ini terdiri dari butiran-butiran kecil yang terdapat dalam kelompok terpisah di dalam vakuola kristal. Contohnya adalah sel parenkim dan korteks pada tumbuhan seperti tembakau (Nicotiana tobacum). Kristal pasir memiliki ukuran yang kecil dan terlihat seperti pasir.
- Kristal styloid (jarum): Bentuk ini menyerupai batang atau jarum dengan ujung yang lancip. Contohnya adalah kristal styloid pada tanaman nanas. Kristal ini memiliki bentuk silindris yang memanjang dengan ujung yang runcing seperti jarum.
- Raphida: Bentuk ini juga menyerupai jarum, tetapi terdapat dalam suatu matriks tertentu. Contohnya adalah kristal raphida pada tanaman Cephaelis ipecacuanhae. Kristal ini memiliki bentuk jarum yang panjang dan tertanam dalam suatu matriks atau jaringan.
- Rosette: Bentuk ini mirip dengan kristal raphida, tetapi tidak memiliki susunan yang teratur. Contohnya adalah kristal rosette pada tanaman Datura stramonium. Kristal ini memiliki bentuk seperti jarum yang tersusun secara tidak teratur.
- Kristal prismatis: Bentuk ini menyerupai segi empat, jajaran genjang, atau segi empat panjang. Contohnya dapat ditemukan pada tumbuhan seperti Citrus (pada sel hipodermis daun) dan Allium cepa (pada lapisan epidermis sisik umbi lapis). Kristal prismatis memiliki bentuk yang serupa dengan prisma berbentuk segi empat.
- Kristal piramid/bipiramid: Bentuk ini menyerupai prisma dengan ujung yang runcing, seperti piramida atau bipiramida. Contohnya dapat ditemukan pada tumbuhan seperti Begonia. Kristal ini memiliki bentuk prisma dengan ujung yang meruncing seperti piramida.
- Kristal drust: Bentuk ini mirip dengan bipiramida, tetapi memiliki cabang-cabang tambahan. Kristal ini memiliki bentuk seperti bipiramida dengan percabangan.
- Kristal silikat: Bentuk ini terdapat pada tumbuhan famili Graminae (rumput-rumputan) dan menyebabkan dinding sel epidermis daun terasa tajam. Kristal silikat ini memiliki sifat yang tajam dan dapat dirasakan pada dinding sel epidermis daun.
Posting Komentar