Penyakit infeksi jamur, atau mikoosis, disebabkan oleh jamur yang tumbuh dan berkembang biak pada tubuh manusia. Infeksi ini dapat terjadi pada kulit, kuku, rambut, mulut, tenggorokan, atau bahkan organ dalam tubuh. Farmakoterapi untuk penyakit infeksi jamur melibatkan penggunaan antijamur, yang dapat berupa antijamur topikal (oles) atau antijamur sistemik (diminum atau disuntikkan).
Antijamur topikal biasanya digunakan untuk mengatasi infeksi jamur pada kulit, kuku, atau rambut. Obat ini seringkali berupa krim, salep, atau sampo yang mengandung bahan aktif antijamur. Obat ini diterapkan langsung pada area yang terinfeksi untuk membunuh jamur dan mengatasi gejala seperti gatal, kemerahan, dan peradangan.
Sementara itu, antijamur sistemik digunakan untuk mengatasi infeksi jamur yang lebih serius atau yang menyebar ke organ dalam tubuh. Obat ini biasanya diminum atau disuntikkan ke dalam tubuh dan bekerja dari dalam untuk membunuh jamur. Antijamur sistemik umumnya diresepkan oleh dokter dan memerlukan pemantauan medis yang ketat karena dapat memiliki efek samping dan interaksi obat dengan obat lain. Pemilihan obat antijamur yang tepat bergantung pada jenis jamur yang menyebabkan infeksi, lokasi infeksi, tingkat keparahan, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan dari pasien.
- Mikosis adalah Istilah untuk Infeksi oleh Jamur: Mikosis adalah istilah medis yang merujuk kepada infeksi yang disebabkan oleh jamur. Infeksi ini dapat terjadi pada berbagai bagian tubuh manusia.
- Jarang Terjadi Dibandingkan dengan Infeksi Bakteri atau Virus: Mikosis merupakan jenis infeksi yang lebih jarang terjadi bila dibandingkan dengan infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Namun, meskipun jarang, mikosis dapat menjadi masalah kesehatan yang serius terutama pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
- Terjadi Akibat Mekanisme Pertahanan Tubuh yang Terhambat: Infeksi oleh jamur biasanya muncul ketika salah satu mekanisme pertahanan tubuh mengalami hambatan. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk penyakit kronis, penggunaan antibiotik yang berlebihan, atau kondisi medis yang melemahkan sistem kekebalan tubuh.
- Dibagi Menjadi Dua Jenis Utama: Mikosis dibagi menjadi dua kategori utama berdasarkan sejauh mana infeksi tersebut menyebar dalam tubuh:
- Infeksi Superfisial: Jenis ini mencakup infeksi dermatofit (infeksi pada kulit, rambut, atau kuku) dan infeksi mukokutan (infeksi pada membran mukosa kulit dan tubuh, seperti mulut dan vagina).
- Infeksi Sistemik: Jenis ini melibatkan infeksi jamur yang menyebar ke jaringan dan organ yang lebih dalam dalam tubuh manusia. Infeksi sistemik dapat menjadi lebih serius dan memerlukan perawatan medis yang intensif.
Infeksi superfisial biasanya dapat diobati dengan penggunaan obat lokal, yang diterapkan langsung pada area yang terinfeksi, dan terkadang memerlukan obat sistemik yang diminum atau disuntikkan. Di sisi lain, infeksi sistemik lebih sulit diobati dan memerlukan terapi jangka panjang. Namun, obat yang tersedia untuk infeksi sistemik seringkali memiliki efek samping yang berat.
Obat antijamur digolongkan ke dalam beberapa kelompok, termasuk:
- Kelompok Polyene: Kelompok ini meliputi obat-obatan seperti amfoterisin B, nistatin, dan natamisin. Obat-obatan dalam kelompok ini bekerja dengan cara merusak dinding sel jamur, sehingga menghentikan pertumbuhan dan perkembangan jamur.
- Kelompok Azol: Azol adalah kelompok obat antijamur yang mencakup ketokonazol, ekonazol, klotrimazol, mikonazol, flukonazol, dan itrakonazol. Obat-obatan dalam kelompok ini menghambat enzim yang diperlukan oleh jamur untuk sintesis ergosterol, suatu komponen penting dalam dinding sel jamur. Dengan menghambat produksi ergosterol, obat-obatan azol merusak dinding sel jamur dan menghentikan pertumbuhannya.
- Kelompok Allilamin: Terbinafin adalah contoh obat dalam kelompok ini. Allilamin bekerja dengan menghambat enzim yang diperlukan oleh jamur untuk produksi ergosterol, sehingga merusak struktur dinding sel jamur.
- Griseofulvin: Griseofulvin adalah obat antijamur yang bekerja dengan menghambat pembelahan sel jamur dan mengganggu pembentukan mikrotubulus.
- Flusitosin: Flusitosin adalah obat antijamur yang bekerja dengan menghambat sintesis DNA dalam sel jamur, sehingga menghentikan pertumbuhan dan perkembangan jamur.
- Mekanisme Kerja: Griseofulvin menghambat mitosis jamur dengan berinteraksi dengan mikrotubulus dan menghambat proses polimerisasi tubulin menjadi mikrotubulus. Dengan cara ini, obat ini menghentikan pertumbuhan jamur yang menyebabkan infeksi superfisial.
- Absorbsi griseofulvin meningkat saat diberikan bersama lemak karena griseofulvin adalah obat yang larut dalam lemak (lipofilik). Larutan lemak membantu melarutkan obat-obatan yang larut dalam lemak, memungkinkan zat tersebut lebih mudah diserap oleh tubuh melalui dinding saluran pencernaan. Ketika griseofulvin diambil bersama makanan yang mengandung lemak atau minyak, larutan lemak ini membantu memecah obat tersebut menjadi partikel-partikel kecil yang lebih mudah diserap oleh dinding usus. Sebagai hasilnya, jumlah griseofulvin yang diserap oleh tubuh meningkat, sehingga meningkatkan efektivitas pengobatan.
Setelah diminum, griseofulvin diolah di dalam hati. Di sana, tubuh memecahnya menjadi bentuk yang tidak aktif. Kemudian, bentuk yang tidak aktif ini dikeluarkan melalui urine dalam bentuk glukuronid, yang artinya bentuk yang sudah dimetabolisme ini diekskresikan melalui urin.
Griseofulvin biasanya digunakan untuk mengobati infeksi dermatofit, yang melibatkan kulit, kuku, atau rambut. Infeksi jenis ini umumnya disebabkan oleh jamur dermatofit (jamur yang menyebabkan infeksi pada kulit manusia, rambut, dan kuku.).
Azol adalah kelompok obat yang memiliki cakupan luas dalam mengatasi berbagai jenis jamur. Dalam kelompok ini terdapat beberapa obat, seperti ketokonazol, ekonazol, kloritmazol, tiokonazol, mikonazol, flukonazol, dan itrakonazol.
Pada jamur yang sedang aktif tumbuh, azol bekerja dengan menghambat sebuah enzim yang disebut 14-αdemetilase. Enzim ini penting dalam pembuatan ergosterol, yaitu zat yang sangat diperlukan untuk membuat dinding sel jamur. Dengan menghambat produksi ergosterol, azol menyebabkan dinding sel jamur menjadi lemah dan rapuh.
Pada tingkat konsentrasi yang tinggi, azol juga menyebabkan zat-zat seperti kalium (K+) dan komponen lainnya bocor keluar dari dalam sel jamur. Hal ini menyebabkan sel jamur mengalami kegagalan fungsi dan akhirnya mati.
Dalam pengobatan infeksi jamur, azol bekerja dengan cara ini untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan jamur dalam tubuh manusia. Obat-obatan dalam kelompok azol ini dapat digunakan untuk mengatasi berbagai jenis infeksi jamur pada kulit, kuku, dan bahkan di dalam tubuh.
Ketokonazol adalah obat yang dapat melawan jenis-jenis jamur seperti Candida, Coccidioides immitis, Cryptococcus neoformans, H. capsulatum, B. dermatitidis, Sporothrix spp, dan Paracoccidioides brasiliensis. Obat ini bisa diberikan lewat mulut atau langsung di kulit. Kalau diminum, obat ini diserap dengan baik oleh pencernaan (sekitar 75%) dan lebih mudah diserap pada kondisi asam.
Setelah masuk dalam darah, 84% ketokonazol terikat dengan protein darah, terutama albumin, 15% terikat dengan sel darah, dan 1% berada dalam bentuk bebas. Ketokonazol diolah oleh hati dengan cara yang sangat intensif. Sebagian besar ketokonazol dikeluarkan bersama empedu ke usus, hanya sebagian kecil yang dikeluarkan melalui urine. Jadi, obat ini bekerja dengan cara melawan jamur-jamur dalam tubuh, baik yang ada di dalam darah maupun di kulit.
Efek Samping Saat Diminum:
- Efek samping yang umum terjadi ketika diminum adalah mual dan muntah.
- Bahaya utama ketokonazol adalah toksisitas hati, yang berarti obat ini bisa merusak organ hati. Oleh karena itu, penggunaannya harus sangat hati-hati.
- Wanita hamil sebaiknya menghindari penggunaan obat ini karena dapat membahayakan janin.
Efek Samping Saat Dioleskan Pada Kulit:
- Jika digunakan secara langsung pada kulit, ketokonazol bisa menyebabkan iritasi, gatal, dan sensasi terbakar.
Indikasi Penggunaan:
- Ketokonazol diresepkan untuk mengatasi infeksi jamur tertentu seperti Paracoccidioides brasiliensis, thrush (kandidiasis faringeal), kandidiasis pada kulit dan selaput lendir (mukokutan), serta infeksi jamur pada kulit (dermatofit) termasuk yang tidak merespons terhadap pengobatan dengan griseofulvin.
- Perlu diingat bahwa ketokonazol sebaiknya tidak digunakan bersamaan dengan amfoterisin B karena bisa mengganggu proses pembentukan ergosterol, suatu zat penting dalam dinding sel jamur.
Bentuk Sediaan:
- Ketokonazol tersedia dalam bentuk tablet 200 mg untuk diminum, juga dalam bentuk gel/krim 2% untuk dioleskan langsung pada kulit, serta solusi khusus untuk kulit kepala dengan konsentrasi 20 mg/ml.
- Spektrum Aktivitas: Mikonazol memiliki kemampuan untuk melawan berbagai jenis jamur, termasuk dermatofit, yang adalah jamur yang menyebabkan infeksi pada kulit, kuku, atau rambut. Spektrum aktivitasnya hampir sama dengan ketokonazol.
- Cara Penggunaan: Mikonazol dapat diberikan dalam bentuk minum atau dioleskan langsung pada kulit. Namun, dalam konteks ini, obat ini seringkali digunakan secara topikal, yang berarti dioleskan langsung pada kulit atau area yang terinfeksi. Penggunaan topikal ini direkomendasikan untuk mengatasi dermatofitosis (infeksi jamur pada kulit) dan kandidiasis (infeksi jamur) pada area tertentu.
- Bentuk Sediaan: Mikonazol tersedia dalam bentuk krim dengan konsentrasi 2%. Ini artinya, ketika Anda menggunakannya, Anda akan mengoleskan krim ini pada area kulit yang terinfeksi.
Klotrimazol, Ekonazol, dan Tiokonazol adalah obat-obatan antijamur yang termasuk dalam kelompok azol. bekerja dengan menghambat sebuah enzim yang disebut 14-αdemetilase. Enzim ini penting dalam pembuatan ergosterol, yaitu zat yang sangat diperlukan untuk membuat dinding sel jamur. Dengan menghambat produksi ergosterol, azol menyebabkan dinding sel jamur menjadi lemah dan rapuh.
Indikasi Penggunaan: Obat-obat ini direkomendasikan untuk mengatasi dua jenis infeksi jamur, yaitu dermatofitosis (infeksi jamur pada kulit, kuku, atau rambut) dan kandidiasis (infeksi jamur) pada area tertentu.
- Spektrum Aktivitas: Itrakonazol memiliki kemampuan untuk melawan jamur dengan spektrum yang luas, termasuk jamur-jamur yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia, seperti yang juga bisa diatasi oleh ketokonazol. Selain itu, obat ini juga efektif melawan jamur jenis Aspergillus (Contohnya adalah Aspergillus fumigatus, yang merupakan penyebab umum penyakit aspergillosis pada manusia. Aspergillosis dapat mempengaruhi paru-paru dan menyebabkan gejala yang mirip dengan pneumonia pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.).
- Pemberian dan Metabolisme: Itrakonazol diberikan melalui mulut (per oral) dan setelah diminum, obat ini akan diserap oleh tubuh dan mengalami proses metabolisme yang cukup ekstensif di hati.
- Indikasi Penggunaan: Itrakonazol diresepkan oleh dokter untuk mengobati berbagai kondisi infeksi jamur. Ini termasuk infeksi jamur pada kulit (tinea), infeksi Candida pada kulit atau selaput lendir (mukokutan), serta infeksi sistemik, yang berarti infeksi yang menyebar ke dalam tubuh.
- Cara Pemberian dan Penyerapan: Flukonazol dapat diberikan melalui mulut (per oral) atau melalui infus (iv). Setelah diminum, obat ini larut dalam air dan cepat diserap oleh tubuh, dengan tingkat penyerapan sekitar 90%. Sebanyak 12% obat terikat pada protein dalam tubuh.
- Distribusi dalam Tubuh: Flukonazol mencapai konsentrasi tinggi dalam cairan serebrospinal (LCS), paru-paru, dan cairan di dalam mata (humor aquosus). Karena kemampuannya mencapai tingkat konsentrasi yang tinggi, flukonazol menjadi obat pilihan pertama untuk mengatasi meningitis akibat infeksi jamur. Selain itu, obat ini juga bekerja efektif dalam mengatasi infeksi jamur pada vagina, saliva, kulit, dan kuku.
- Indikasi Penggunaan: Flukonazol diresepkan oleh dokter untuk mengatasi infeksi jamur yang menyebar ke dalam tubuh (infeksi sistemik) dan kandidiasis pada kulit atau selaput lendir.
- Nistatin adalah jenis antibiotik yang digunakan untuk melawan jamur. Obat ini berasal dari mikroorganisme bernama Streptomyces noursei. Strukturnya mirip dengan antibiotik lain yang disebut amfoterisin B.
- Nistatin bekerja dengan cara menghentikan pertumbuhan jamur. Namun, bedanya dengan obat lain, nistatin tidak diserap oleh tubuh melalui lapisan lendir di mulut atau kulit. Ini berarti jika diminum, obat ini hampir tidak diserap oleh tubuh dan kemudian dikeluarkan melalui tinja. Obat ini terlalu berbahaya jika diberikan melalui suntikan.
- Nistatin sebenarnya bisa melawan berbagai jenis jamur, termasuk yang menyebar ke dalam tubuh. Tapi karena obat ini sangat toksik (berbahaya), nistatin hanya digunakan untuk mengobati infeksi jamur Candida pada kulit, lapisan lendir mulut, dan saluran pencernaan. Jadi, nistatin hanya digunakan untuk masalah jamur di bagian-bagian ini dan tidak digunakan untuk infeksi jamur yang lebih serius.
- Indikasi Penggunaan: Nistatin digunakan untuk mengobati kandidiasis oral (infeksi jamur di mulut), kandidiasis vagina (infeksi jamur di area vagina), dan esofagitis (radang pada kerongkongan) yang disebabkan oleh jamur Candida. Obat ini bekerja dengan cara melawan pertumbuhan jamur Candida.
- Bentuk Sediaan: Nistatin tersedia dalam berbagai bentuk, termasuk obat tetes atau suspensi (cairan), tablet yang diminum melalui mulut, tablet khusus untuk digunakan di area vagina, dan suppositoria (bentuk obat padat yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui rektum atau vagina).
- Cara Kerja: Terbinafin bekerja dengan cara menghambat sebuah enzim bernama squalen epoksidase. Enzim ini penting untuk mengubah suatu zat yang disebut squalen menjadi bentuk lain yang diperlukan oleh jamur untuk berkembang. Dengan menghambat proses ini, terbinafin menghentikan pertumbuhan jamur.
- Pemberian dan Penyerapan: Terbinafin diberikan melalui mulut (per oral) dan diserap dengan baik oleh tubuh melalui saluran pencernaan. Setelah diminum, kadar obat dalam darah mencapai puncaknya sekitar 2 jam setelah konsumsi.
- Aktivitas Terhadap Jamur: Obat ini sangat efektif melawan jenis jamur yang disebut dermatofit, dan bahkan lebih baik dalam mengatasi jenis ini dibandingkan dengan obat lain seperti itrakonazol. Dermatofit adalah jenis jamur yang menyebabkan infeksi pada kulit dan kuku.
- Indikasi Penggunaan: Terbinafin direkomendasikan untuk mengatasi infeksi jamur pada kulit dan kuku. Ini adalah pilihan yang baik untuk mengobati masalah-masalah seperti kadas, kuku yang terinfeksi jamur, atau infeksi kulit lainnya yang disebabkan oleh jamur.
- Tolnaflat: Tolnaflat adalah obat topikal yang efektif untuk mengatasi infeksi jamur dermatofit pada kulit. Namun, obat ini tidak begitu efektif untuk mengatasi infeksi jamur Candida. Tolnaflat tersedia dalam bentuk krim dengan konsentrasi 1%.
- Salep Whitfield: Salep Whitfield merupakan kombinasi dari asam benzoat dan asam salisilat dalam rasio 2:1, biasanya dengan konsentrasi 12% dan 6%. Obat ini umumnya digunakan untuk mengobati Tinea pedis, yaitu infeksi jamur pada kaki.
- Asam Undesilinat: Asam undesilinat efektif melawan jamur dermatofit. Obat ini tersedia dalam bentuk salep atau krim, kadang-kadang dikombinasikan dengan asam benzoat dan asam salisilat untuk meningkatkan efektivitasnya.
- Haloprogin: Haloprogin adalah obat yang efektif melawan jamur dermatofit dan Candida. Obat ini biasanya digunakan untuk mengatasi infeksi jamur pada kulit.
- Siklopiroksolamin: Siklopiroksolamin adalah obat yang efektif untuk mengatasi infeksi jamur dermatofit dan kandidiasis pada kulit.
Farmakokinetik obat ini cukup kompleks. Ini berarti obat tersebut mengalami berbagai proses dalam tubuh setelah diminum. Sebagian besar obat ini (lebih dari 90%) terikat pada protein dalam darah. Proses distribusi dan penghilangan obat ini melibatkan beberapa fase, dengan waktu setengah paruh (waktu yang diperlukan untuk mengurangi konsentrasi obat dalam darah menjadi separuh dari nilai awalnya) berkisar antara 24 hingga 48 jam, dan waktu paruh terminalnya mencapai 15 hari.
ABLC (amphotericin B lipid complex) adalah formulasi amfoterisin B yang tidak mengandung lemak dan digabungkan dengan 2 jenis fosfolipid. Penggunaan obat ini dapat menimbulkan efek samping, terutama dalam bentuk toksisitas pada ginjal, yang merupakan masalah serius yang harus diperhatikan.
Amfoterisin B adalah obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi jamur yang menyebar dalam tubuh, termasuk kasus meningitis yang disebabkan oleh jamur, serta infeksi saluran kemih (ISK) yang disebabkan oleh jamur. Obat ini juga efektif dalam mengatasi masalah mata seperti keratitis mitotik. Amfoterisin B adalah pilihan utama dalam pengobatan infeksi jamur yang serius dan berat.
Dalam kasus meningitis yang disebabkan oleh jamur Cryptococcus, pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan amfoterisin B sendirian atau dikombinasikan dengan flusitosin.
Amfoterisin B tersedia dalam beberapa bentuk, termasuk salep mata atau tetes mata dengan konsentrasi 1%, serta dalam bentuk suntikan dengan dosis 50 mg per 10 ml atau larutan dengan konsentrasi 0,1 mg/ml. Penggunaan obat ini harus sesuai dengan petunjuk dokter, dan penting untuk mengikuti instruksi penggunaan dengan cermat, terutama karena obat ini digunakan untuk mengatasi kondisi medis yang serius.
Flusitosin, juga dikenal sebagai 5-fluorositosin, adalah obat antimetabolit yang berperan dengan cara menghambat sintesis DNA dalam sel jamur. Dalam tubuh, flusitosin mengalami metabolisme menjadi bentuk aktif yang kemudian menghambat pembentukan DNA, suatu materi genetik penting dalam sel. Obat ini memiliki kemampuan melawan beberapa jenis jamur, termasuk Candida, C. neoformans, Cladosporium, dan Phialophora.
Flusitosin diberikan melalui mulut (per oral) dan mudah diserap oleh tubuh melalui saluran pencernaan. Setelah diserap, obat ini tersebar luas ke seluruh tubuh, termasuk ke cairan serebrospinal (LCS) di sekitar otak, dengan kadar mencapai 70-85% dari kadar dalam darah.
Jadiflusitosin adalah obat yang menghambat pertumbuhan sel jamur dengan cara mengganggu pembentukan DNA. Obat ini efektif melawan berbagai jenis jamur dan diminum melalui mulut. Setelah diminum, flusitosin tersebar ke seluruh tubuh dan bahkan mencapai cairan di sekitar otak.
KLIK LINK INI
إرسال تعليق